Nutmeg

Nutmeg Indonesia adalah negara penghasil pala terbesar di dunia.

Nutmeg PowderPure & NaturalShipping from Indonesia
31/12/2022

Nutmeg Powder
Pure & Natural
Shipping from Indonesia

Bagaimana Cara Penanganan Pasca Panen Pala yang baik?Penanganan pasca panen pala yang tepat dapat meningkatkan kualitas ...
04/03/2022

Bagaimana Cara Penanganan Pasca Panen Pala yang baik?

Penanganan pasca panen pala yang tepat dapat meningkatkan kualitas biji dan fuli pala untuk diekspor. Buah pala siap dipanen pada umur 9 bulan setelah pembungaan. Ciri buah siap panen yaitu warna buah kuning kecokelatan, beberapa buah mulai merekah (membelah) melalui alur belahnya, kulit biji (cangkang) berwarna cokelat tua sampai hitam dan mengilat, dan warna fuli memerah. Buah yang sudah mulai membelah sebaiknya segera dipanen karena jika dibiarkan tetap di pohon selama 2-3 hari, buah akan membelah sempurna (terbelah dua) sehingga bijinya jatuh ke tanah. Selain itu kalau kena hujan, buah akan membusuk.
Buah sebaiknya dipetik langsung dari pohon saat sudah masak petik. Buah yang sudah jatuh hendaknya diambil sedini mungkin agar terhindar dari serangan hama bubuk biji Poecilips myristiceae dan cendawan yang menyebabkan biji membusuk. Buah dipetik menggunakan galah yang dilengkapi keranjang penampung di bagian ujungnya. Dapat p**a dengan memanjat pohon lalu buah dipetik dan dimasukkan ke dalam keranjang. Panen buah dengan cara dijatuhkan akan menurunkan kualitas biji yang dihasilkan. Tahapan penanganan pascapanen pala adalah:

Pemisahan Bagian Buah:
Buah yang telah dipetik segera dibelah lalu dipisahkan antara daging buah, biji, dan fulinya. Masing-masing bagian buah tersebut ditempatkan dalam wadah yang bersih dan kering. Pelepasan fuli dari biji dilakukan dengan hati-hati, dari ujung ke arah pangkal, agar diperoleh fuli berkualitas baik. Biji yang terkumpul lalu dipilah menjadi tiga, yaitu biji gemuk dan utuh, biji kurus atau keriput, dan biji cacat

Pengeringan Biji:
Biji pala yang masih bercangkang dijemur di bawah sinar matahari. Pengeringan dilakukan secara perlahan dan tidak dianjurkan pada saat matahari terik. Bila pengeringan dilakukan dengan pengasapan atau menggunakan alat pengering, suhunya dijaga tidak lebih dari 450C. Pengeringan pada suhu yang terlalu panas menghasilkan biji berkualitas rendah karena kandungan lemaknya mencair, biji menjadi keriput, rapuh, dan aromanya berkurang. Pengeringan berlangsung sekitar 9 hari, bergantung pada kondisi cuaca, sampai daging biji terlepas dari cangkangnya, dengan kadar air 8-10%.

Pengupasan Cangkang Biji:
Biji yang telah kering dipecah untuk memisahkan daging biji dari cangkangnya. Biji dipecah menggunakan alat pemukul dari kayu atau mesin pemecah biji. Pemecahan biji dilakukan secara hati-hati dengan posisi biji tegak agar biji tidak rusak. Petani pala biasanya memecah biji pala dengan menggunakan mesin karena lebih hemat tenaga,
waktu, dan biaya dibandingkan dengan menggunakan alat pemukul. Selain itu, kerusakan daging biji relatif kecil. Daging biji lalu disortir untuk memisahkan biji utuh dari biji pecah, lalu dikelompokkan berdasarkan ukurannya, yaitu (1) daging biji besar, setiap 1 kg terdapat 120 butir biji; (2) daging biji sedang, setiap 1 kg terdapat 150 butir biji; dan (3) daging biji kecil, setiap 1 kg terdapat sekitar 200 butir isi biji.

Pengapuran Daging Biji:
Untuk mencegah pembusukan dan gangguan hama, daging biji dilapisi larutan kapur. Caranya, kapur dilarutkan dalam air kemudian daging biji dalam keranjang kecil dicelupkan ke dalam larutan kapur 2-3 kali sambil digoyang-goyang agar kapur mengenai semua biji. Selanjutnya biji dikeringkan secara perlahan selama 3-4 minggu sampai kadar airnya 10-12%. Sebaiknya pengeringan dilakukan di atas rak yang disangga 1 mtr di atas tanah agar biji terhindar dari kotoran dan debu.

Sortasi Daging Biji:
Sortasi akhir daging biji dilakukan berdasarkan ukuran, warna, keriput/tidak, dan ada/tidak adanya lubang pada biji. Secara garis besar, kualitas daging biji pala digolongkan menjadi tiga, yaitu Kualitas I: daging biji berasal dari buah yang dipetik cukup tua dan permukaan biji licin; Kualitas II: daging biji keriput karena berasal dari biji kurang tua atau pengeringan dengan suhu melebihi 450C; Kualitas III: daging biji berasal dari buah muda, hasil pemungutan, atau mengalami kerusakan waktu penanganan pascapanen.

Pengeringan Fuli :
Fuli dikeringkan dengan cara dihamparkan di atas alas yang bersih lalu dijemur secara perlahan selama beberapa jam, kemudian diangin-anginkan. Selanjutnya, fuli dipipihkan dengan menggunakan alat mirip penggilingan, kemudian dijemur kembali selama 2-3 hari sampai kadar airnya 10-12%. Pada tahap ini, warna fuli yang semula merah cerah berubah menjadi merah tua dan akhirnya menjadi jingga. Proses pengeringan secara bertahap menghasilkan fuli yang kenyal (tidak rapuh) dan berkualitas tinggi. Sebaiknya pengeringan dilakukan di atas rak yang disangga sekitar 1 m di atas tanah untuk menghindarkan cemaran dari kotoran hewan maupun debu. Pada musim hujan, pengeringan fuli dapat menggunakan alat pengering dengan suhu tidak lebih dari 600C agar fuli kering tidak rapuh dan a minyak atsirinya tidak hilang.

Sortasi Fuli:
Sortasi fuli dilakukan untuk meningkatkan nilai tambahnya. Caranya dengan memisahkan fuli yang utuh dari fuli yang tidak utuh.

Penyimpanan dan Pengemasan:
Daging biji dan fuli kering dikemas dalam karung goni atau tempat tertutup rapat kemudian disimpan di tempat yang kering dan teduh. Penyimpanan fuli dalam tempat tertutup rapat dan dalam kondisi gelap selama 3 bulan dapat meningkatkan mutunya. Apabila ada permintaan dari konsumen, daging biji pala dan fuli dapat diawetkan dengan fumigasi menggunakan zat metil bromida atau karbon bisulfida. Pemberian fumigan dilakukan di ruang tertutup rapat selama 2 x 24 jam.

By Sunarti Datundugon dan Arnold C.Turang
Informasi dinukil dari https://sulut.litbang.pertanian.go.id/index.php/info-teknologi/bun/106-infoteknologi4/1084-penanganan-pasca-panen-buah-pala

Pala/myristica fragrans berasal dari kep**auan Banda, Maluku. Karena memiliki nilai jual tinggi sebagai rempah-rempah, b...
03/03/2022

Pala/myristica fragrans berasal dari kep**auan Banda, Maluku. Karena memiliki nilai jual tinggi sebagai rempah-rempah, buah dan biji pala menjadi komoditas penting sejak masa Romawi.
Jenis rempah Indonesia ini mengandung minyak atsiri sekitar 7-14%. Minyak dari buah pala dipakai sebagai campuran parfum atau sabun.
Sementara itu bubuk pala sering dimanfaatkan sebagai tambahan rasa untuk roti atau kue, puding, saus, serta sayuran dan minuman penyegar.

https://youtu.be/DMHrQZQrPvM

Pala (Myristica fragrans) merupakan tumbuhan berupa pohon yang berasal dari kep**auan Banda, Maluku. Akibat nilainya yan...
26/02/2022

Pala (Myristica fragrans) merupakan tumbuhan berupa pohon yang berasal dari kep**auan Banda, Maluku. Akibat nilainya yang tinggi sebagai rempah-rempah, buah dan biji pala telah menjadi komoditas perdagangan yang penting sejak masa Romawi. Pala disebut-sebut dalam ensiklopedia karya Plinius "Si Tua". Semenjak zaman eksplorasi Eropa pala tersebar luas di daerah tropika lain seperti Mauritius dan Karibia (Grenada). Istilah pala juga dipakai untuk biji pala yang diperdagangkan.

Tumbuhan ini berumah dua (dioecious) sehingga dikenal pohon jantan dan betina. Daunnya berbentuk elips langsing. Buahnya berbentuk lonjong seperti lemon, berwarna kuning, berdaging dan beraroma khas karena mengandung minyak atsiri pada daging buahnya. Bila masak, kulit dan daging buah membuka dan biji akan terlihat terbungkus fuli yang berwarna merah. Satu buah menghasilkan satu biji berwarna coklat.
Pala dipanen biji, salut bijinya (arillus), dan daging buahnya. Dalam perdagangan, salut biji pala dinamakan fuli, atau dalam bahasa Inggris disebut mace, dalam istilah farmasi disebut myristicae arillus atau macis). Daging buah pala dinamakan myristicae fructus cortex. Tanaman pala merupakan tanaman yang cukup lama pertumbuhannya hingga pemanenan. Panen pertama dilakukan 7 sampai 9 tahun setelah pohonnya ditanam dan mencapai kemampuan produksi maksimum setelah 25 tahun. Tumbuhnya dapat mencapai 20m dan usianya bisa mencapai ratusan tahun.
Sebelum dipasarkan, biji dijemur hingga kering setelah dipisah dari fulinya. Pengeringan ini memakan waktu enam sampai delapan minggu. Bagian dalam biji akan menyusut dalam proses ini dan akan terdengar bila biji digoyangkan. Cangkang biji akan pecah dan bagian dalam biji dijual sebagai pala.
Biji pala mengandung minyak atsiri 7-14%. Bubuk pala dipakai sebagai penyedap untuk roti atau kue, puding, saus, sayuran, dan minuman penyegar (seperti eggnog). Minyaknya juga dipakai sebagai campuran parfum atau sabun. Selain itu, tanaman ini juga kaya akan manfaat, diantaranya buah pala yang terdiri dari kulitnya dapat dijadikan bahan tambahan obat pengusir nyamuk; dagingnya yang mengandung banyak nutrisi dapat dijadikan bahan dasar pembuatan berbagai jenis makanan dan minuman seperti manisan, sirup, dan permen; biji dan fulinya sering dijadikan sebagai bahan utama pembuatan minyak atsiri; begitu juga dengan daunnya, namun pada daging buahnya pun sering dijadikan bahan baku minyak atsiri.

Artikel diambil dari https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pala

Indonesia masih menjadi salah satu penghasil pala terbesar dunia selain Guatemala, India, Nepal, dan Laos. Pada tahun 20...
24/02/2022

Indonesia masih menjadi salah satu penghasil pala terbesar dunia selain Guatemala, India, Nepal, dan Laos. Pada tahun 2015, produksi pala di Indonesia mencapai 33.711 ton dengan luas area tanam 168.904 ha (Dirjen Perkebunan, 2016). Maluku dan Papua menjadi sentra pala terbesar, disusul Aceh dan Sulawesi Utara.

Informasi diambil dari https://ternate.karantina.pertanian.go.id/pala-potensi-ekspor-indonesia-timur/ #:~:text=Indonesia%20masih%20menjadi%20salah%20satu,disusul%20Aceh%20dan%20Sulawesi%20Utara.

Address

Sampang
69211

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Nutmeg posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Nutmeg:

Share