19/02/2022
Kopi yang diambil dari kata “kopen” dalam bahasa Jawa berarti merawat, menjaga, dan memelihara secara hati-hati. Hanya satu tujuannya, mereka bisa menumbuhkan kopi berkualitas dari segi rasa dan aroma.
Menurut Wrecking Trish Rothgeb dalam artikel “Ball Coffee Roasters tahun 2002”, sedikitnya ada 3 pergerakan dalam perkopian atau lebih dikenal sebagai Waves Coffee.
1. First Waves Wave Coffee
Pada era 1800-an, kopi disajikan dalam kemasan praktis dan instan. Bahkan, pada Perang Dunia I (1917), tentara disajikan kopi sebagai minuman setiap hari.
2. Second Wave Coffee
Tak seperti kopi sebelumnya, citarasa kopi instan dianggap kurang nikmat. Para fanatik kopi menginginkan lebih dari yang bisa mereka minum. Maka itu, pada 1960-an, muncul berbagai varian kopi baru. Seperti latte, espresso, mochaccino, cappuccino, frappuccino, americano, dan masih banyak lagi. Mulai menjamur berbagai coffee shop tematik yang lebih nyaman dan modern. Sembari minum kopi, mereka bisa mengobrol santai hingga diskusi bisnis dengan kolega.
3. Third Wave Coffee
Gelombang ketiga hadir tahun 2000-an. Pada masa ini, masyarakat luas menyadari ada perjalanan panjang demi secangkir kopi nikmat. Mulai dari proses tanam, pengolahan biji kopi, hingga penyajian. Dari sini muncul istilah “origin”, yaitu pemberian identitas kopi sesuai lokasi tanamnya. Pasalnya, rasa kopi akan berbeda apabila ditanam di daerah tertentu. Pecinta kopi lebih detail dalam menikmati kualitas dan rasa kopinya. Nah, di Indonesia ada beberapa daerah penghasil kopi yang legendaris dan telah mendunia. Antara lain Mandailing (Sumatera Utara), Dataran Tinggi Gayo (Aceh), Preanger (Jawa Barat), Kintamani (Bali), dan masih banyak lagi lokasi perkebunan kopi lainnya, termasuk Banjarnegara.