31/08/2022
Aroma Cing Hio mulai menyeruak di hidungku, pertanda mulai adanya aktifitas di dalam rumah oma. Cing Hio merupakan d**a bubuk ramuan kuno yang terdiri dari campuran 7 kayu kesukaan oma Liem Kiok Hiang. Wanginya manis dengan nuansa oriental cendana nusa tenggara timur yang dominan seakan akan memberikan semangat baru tanpa ada rasa malas walaupun matahari belum menunjukan sinarnya di ufuk timur. Saat kulihat jam duduk "Smiths Enfield" pemberian Liem Hoo Tjwan menunjukan pukul 4:30 kuberanjak dari kasur kemudian langsung menuju kamar mandi. Merupakan sebuah tradisi di rumah Oma dimana saat bangun tidur dan akan tidur harus segera mandi. Setelah bersih dan wangi menggunakan seragam sekolah aku duduk di ruang makan yang berhias taplak putih kristik berhias bunga krisan merah dan kuning saling bertalian, tampak juga tulisan LKH di setiap ujung taplaknya.
Oma muncul dari dapur dengan membawa sebuah tenong berisi kuweh-kuweh lengkap dengan alas daun pisang.
"Ini Nyo bawa-en ke sekolah buwat konco kelasmu."
“Kok akéh men” Jawabku sambil melihat satu tenong penuh berisikan pastel ayam.
“Iya isuk tadi ada pesenan akeh, terus ta' tambahi buat konco-koncomu”
"Opo-o ndak pakek plastik ae? tenong pring gitu malah repot lho mbawak-é”
"Engkok rasane beda Nyo gak seenak nek diwadahi tenong mbe' samiran godhong gedhang koyok ngene.”
“opo iku disamir-i?”
"tatakan daun pisang koyok ngéné nek wong jowo jenengé samir.”
"Wes mari'no sarapan-é ndang budhal-o nyo, tik telat digégéri guruné.”
Oma menambahi perkataannya, disusul dengan mbak ti yang membantu mengikat tenong di belakang sepeda onthelku.
Untuk meneruskan tradisi oma Liem Kiok Hiang kita masih memakainya pada kemasan Kiok. Samiran daun pisang memberikan salah satu aroma yang tidak bisa digantikan dengan kemasan modern. Pada kemasan Kiok, samir sampai ke sisi samping hingga sekilas menyerupai Takir atau Takiran.