04/06/2019
*Kisah Kacang dan Emping*
Lebaran.
Kenapa harus ada kacang?
Kenapa harus ada emping?
Karena emping adalah jajanan Lebaran kes**aan Mama.
Dan kacang adalah jajanan Lebaran kes**aan Bapak.
Dulu, Mama selalu ngajakin saya beli emping di pasar Besar. Yang tokonya ada di tengah. Dan belinya siang-siang. Di bulan puasa. Padahal rumah saya di Bunul. Sama pasar Bunul cuma berjarak 500 meter. Jalan kaki nyampe. Dan emping juga banyak di situ. Mau beli 3 kwintal juga ada.
Tapi entah kenapa, Mama selalu ngetes iman saya dgn ngajakin berpetualang di gang-gang sempit pasar Besar yang konon ruwetnya melebihi labirin tempat Harry Potter menuntaskan ronde ke 3 pertandingan Triwizard.
Panas, capek, lemes, kesal, campur aduk jadi satu.
Sementara dengan kacang, lain lagi cerita.
Dulu juga, pada jaman di mana kacang kupas belum populer seperti sekarang, ada ritual khusus yg kami lakukan menjelang Idul Fitri. Malam-malam, setelah tarawih, panci-panci berukuran raksasa akan berjejer di dapur. Isinya tentu aja kacang yang sudah direbus, menunggu untuk dikuliti.
Masalahnya, bapak kalau beli kacang nggak nanggung-nanggung. 5 kilo setiap Lebaran. Ibaratnya walau Engkong Guan boleh absen, tapi Kak Cang harus tetap ada. Jadilah mama dan kakak saya begadang, ngupasin kacang sampai jari keriput. Saya? Ikutan juga. Tapi paling 10 biji udah keok. Maklum, masih piyik. (eh tapi walau sekarang udah bangkotan juga nggak akan kuat ngupas kacang segitu banyak π).
Sebagai anak kecil saya selalu nggak habis pikir. Kenapa orang tua s**a banget merepotkan diri. Padahal bisa beli Astor aja kan yg enak, ekonomis, dan praktis.
Tanpa saya sadari, hal2 itu menjadi kenangan bagi saya sekarang. Kalau saja mereka dulu nggak bersusah payah bikin emping dan kacang, mungkin kenangan saya hanya akan terbatas pada kaleng-kaleng kosong sisa wafer Nissin dan Selamat yang dijadikan wadah rengginang.
Tapi sekarang, justru 2 momen itu yang menghangatkan hati saya sebagai anak yg udah nggak punya orang tua.
Kadang kita ini menyedihkan ya sebagai manusia.
Di saat mereka hidup, kita nggak bersikap baik. Tapi begitu mereka nggak ada, kita bersusah payah mengais-ngais kenangan, hanya untuk 'menghadirkan' orang-orang tersayang itu di hari Idul Fitri.
Mungkin di langit, malaikat pun sedang mencibir sinis.
Ellen Thiastiane