16/05/2024
Di antara kesedihan yang banyak menimpa manusia adalah ketika seseorang mendapatkan sesuatu yang tidak diharapkannya meski sudah mati-matian mengorbankan apapun yang ia miliki demi terwujudnya impian itu. Ketika hal seperti ini terjadi, tak sedikit orang yang menyalahkan pihak lain, bahkan Allah, Rabb yang mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya pun tak luput untuk disalahkan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah engkau tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.” [1]
Jika memang engkau kehilangan Hpmu yang berharga, tidak perlu bersedih karena inilah takdir yang terbaik untukmu. Siapa tahu engkau kelak akan mendapatkan ganti yang lebih baik. Engkau belum juga diterima di universitas pilihanmu, jangan p**a khawatir karena takdir Allah sama sekali tidaklah kejam. Tidaklah perlu bersedih terhadap apa yang luput darimu.
Jangan p**a terlalu berbangga dengan nikmat yang kita peroleh karena itu sama sekali bukanlah usaha kita. Itu semua adalah takdir yang Allah tetapkan dan rizki yang telah Allah bagi [2]. Asy Syaukani rahimahullah mengatakan,
“Janganlah bersedih dengan nikmat dunia yang luput darimu. Janganlah p**a berbangga dengan nikmat yang diberikan padamu. Karena nikmat tersebut dalam waktu dekat bisa sirna. Sesuatu yang dalam waktu dekat bisa sirna tidak perlu dibangga-banggakan. Jadi tidak perlu engkau berbangga dengan hasil yang diperoleh dan tidak perlu engkau bersedih dengan sesuatu yang luput darimu. Semua ini adalah ketetapan dan takdir Allah.” [3]
Pahamilah bahwa apapun yang terjadi adalah takdir Allah, tak perlu sedih dan tak perlu berbangga diri.
Referensi:
https://muslim.or.id/27649-ketetapan-allah-adalah-yang-terbaik.html
https://rumaysho.com/1215-jangan-berputus-asa-terhadap-sesuatu-yang-luput-darimu.html
Catatan kaki :
[1] HR. Ahmad 5/185. Syaikh Syu'aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy (kuat)
[2] Tafsir Al-Qur'an Al 'Azhim, 13/431
[3] Fathul Qodir, Muhammad bin 'Ali Asy Syaukani, Mawqi' Al Islam, 7/158