10/04/2026
Dalam sejarah seni, distopia sering dipahami sebagai gambaran dunia yang runtuh—sebuah lanskap
kehancuran yang lahir dari perang, kekuasaan, atau krisis moral. Imajinasi ini dapat ditemukan dalam
karya-karya seperti The Garden of Earthly Delights karya Hieronymus Bosch maupun dalam lukisan
monumental Guernica karya Pablo Picasso, di mana distopia hadir sebagai peristiwa dramatis yang
menandai kehancuran peradaban.
Namun dalam karya-karya Ikhwan Sugianto, distopia tidak lagi dipahami sebagai narasi tentang
kehancuran dunia. Ia hadir sebagai kondisi biologis yang berlangsung di dalam tubuh itu sendiri.
Tubuh dalam karya-karyanya tidak tampil sebagai figur manusia yang stabil, melainkan sebagai
jaringan organisme yang mengalami peluruhan, transformasi, dan asimilasi.
Melalui bentuk-bentuk organik yang ambigu, karya Ikhwan menghadirkan refleksi tentang dunia di
mana batas antara manusia, organisme, dan lingkungan menjadi semakin kabur. Distopia tidak lagi
berada di masa depan, tetapi hadir secara diam-diam di dalam sistem kehidupan yang kita hidupi
saat ini. (Firman Lie, kurator)